PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) menggalang dana senilai Rp 3 triliun melalui penerbitan surat utang jangka menengah (medium term notes/MTN). Dana hasil emisi tersebut akan dimanfaatkan perusahaan milik taipan Sabana Prawirawidjaja ini untuk belanja modal (capital expenditure/capex) dan modal kerja.

MTN Ultrajaya tahun 2020 ditawarkan dalam tiga seri yakni, seri A bertenor 370 hari, seri B bertenor 2 tahun dan seri C bertenor 3 tahun. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) telah memberikan peringkat AA- terhadap surat utang tanpa jaminan khusus tersebut.

Ultrajaya telah menandatangani perjanjian MTN pada 13 November, dan pembayaran MTN dari investor ditargetkan pada 17 November. Sementara pembayaran bunga pertama akan dilakukan pada 17 Februari 2021.

“Dengan penerbitan MTN, perseroan akan mendapat manfaat berupa pelaksanaan rencana perluasan perseroan sehingga dapat meningkatkan efisiensi di supply chain, logistik dan distribusi produk perseroan,” jelas manajemen dalam prospektus resmi, Senin (16/11).

Manajemen juga berharap ekspansi perluasan dapat meningkatkan kapasitas produksi, serta menambah produksi bahan baku susu segar sehingga mengsubtitusi impor. Adapun, perseroan menunjuk PT Nikko Sekuritas Indonesia sebagai penasihat keuangan dalam aksi penerbitan MTN ini.

Sementara itu, sekuritas yang menjadi penatalaksana antara lain PT Bahana Sekuritas, PT BCA Sekuritas, PT BNI Sekuritas, PT BRI Danareksa Sekuritas, PT CIMB Niaga Sekuritas, PT DBS Vickers Sekuritas Indonesia, PT Maybank Kim Eng Sekuritas, PT OCBC Sekuritas Indonesia, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM). Sedangkan bank yang bertindak sebagai agen pemantau adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).

Nilai penerbitan MTN Ultrajaya ini setara dengan 48,20% dari total ekuitas perseroan yang sebesar Rp 6,22 triliun per 30 Juni 2020. Alhasil, nilai transaksi dinilai lebih dari 20% ekuitas sehingga menjadi transaksi material. Baru-baru ini, Pefindo turut menyematkan prospek stabil untuk corporate rating Ultrajaya.

BACA:  Lo Kheng Hong Akumulasi GJTL diatas 5%

Sementara peringkat AA- mencerminkan posisi pasar Ultrajaya yang kuat sebagai produsen domestik minuman susu cair dan teh Suhu Sangat Tinggi (UHT). “Hal ini juga didukung struktur permodalan yang konservatif serta arus kas dan likuiditas yang kuat, dan produk yang terdiversifikasi dengan baik,” tulis Pefindo. Kendati demikian, peringkat tersebut dibatasi oleh eksposur terhadap fluktuasi biaya bahan baku dan persaingan yang ketat pada industri susu cair dan teh UHT. Peringkat Ultrajaya dapat dinaikkan jika perusahaan secara signifikan memperkuat posisi bisnis dengan mendominasi pasar dan diversifikasi produk.

Hal ini harus diiriring dengan peningkatan profitabilitas yang berkelanjutan dengan tetap mempertahankan struktur permodalan yang konservatif. Peringkat dapat turun jika terjadi penurunan kinerja, arus kas yang melemah akibat perubahan signifikan biaya operasional atau tingkat hutang untuk pembiayaan belanja modal yang lebih tinggi dari yang diproyeksikan.

Sebagai informasi, Ultrajaya yang didirikan sejak 1971 adalah produsen minuman susu cair dan teh UHT terkemuka di Indonesia. Saat ini didukung oleh tiga fasilitas produksi yang berlokasi di Padalarang, Bandung, Jawa Barat. Produk Perusahaan dikategorikan ke dalam produk UHT, Susu Kental Manis (SCM), dan susu bubuk atau minuman bubuk bernutrisi (SPD).

Pendapatan Perusahaan sebagian besar berasal dari penjualan produk UHT yang mencakup hampir 100% dari total penjualan ULTJ pada semester I-2020. Berdasarkan laporan keuangan yang belum diaudit, Ultrajaya membukukan penjualan Rp 4,45 triliun hingga kuartal III-2020, turun 2,83% dibanding periode sama tahun lalu Rp 4,58 triliun. Penjualan domestik berkontribusi Rp 4,88 triliun, dan penjualan eskpor sebesar Rp 8,55 miliar.

Di sisi lain, perseroan menekan beban pokok penjualan 1,38% menjadi Rp 2,82 triliun, dari sebelumnya Rp 2,86 triliun. Hingga kuartal III-2020, Ultrajaya meraih laba bersih Rp 973,71 miliar, melonjak 19,57% dibanding periode sama tahun lalu Rp 814,31 miliar. Perseroan tercatat memiliki kas dan setara kas Rp 710,20 miliar per 30 September 2020, turun dibandingkan 31 Desember 2019 sebesar Rp 2,04 triliun.

BACA:  Telkom Resmi Menyuntikkan US$ 150 juta ke Gojek