Tak banyak nama besar di Indonesia yang sukses menjadi investor ritel saham. Untuk saat ini, nama Lo Kheng Hong mungkin tak ada duanya, karena memang tak banyak orang yang sukses jadi ‘triliuner’ berinvestasi di pasar saham.

Lo merupakan penganut value investing dan sangat ‘fanatik’ dengan kisah sukses dengan Warren Buffett, orang terkaya nomor tiga di dunia, yang juga sukses investasi di saham. Ini juga yang membuat Lo Kheng Hong mendapat julukan Warren Buffett Indonesia.

Strategi nilai investasi atau value investing, pertama kali dikenalkan Benjamin Graham dalam bukunya The Intelligent Investor. Value investing adalah strategi investasi untuk menemukan saham super dengan harga yang lebih murah dari harga wajarnya.

Bekal ilmu value investing, Lo menerapkannya dalam berinvestasi di emiten-emiten yang mengolah komoditas sumber daya alam (SDA).

Hampir sebagian besar cuan atau keuntungan yang dibukukan Lo, panggilan akrabnya, berasal dari saham-saham yang berbasis komoditas.

Alasannya, pergerakan harga komoditas yang fluktuatif menjadi kesempatan untuk mendapatkan untung besar.

“Saya banyak mendapatkan keuntungan dari saham komoditas. Dulu ada PT Timah Tbk (TINS), PT Indika Energy Tbk (INDY) perusahaan batu bara, ada PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), karena komoditas itu berfluktuasi,” kata Lo saat menceritakan kisah sukses dirinya berinvestasi saham di Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2020 secara virtual, Sabtu (24/10/2020).

Lo selalu mencermati pergerakan harga komoditas. Contohnya, dia tahu jika harga batu bara berfluktuasi dari harga US$ 100/ton dan drop ke US$ 50/ton, tapi bisa berbalik arah dalam waktu yang sangat cepat.

“Saya membeli saham batu bara ketika bad time, saat harganya murah. Saya beli, saya simpan karena saya tahu, suatu hari harganya pasti akan ke US$ 100/ton. Ketika harga batu bara ke US$ 100, perusahaan batu bara untung besar dan harga sahamnya naik 4.000% dan saya jual,” kata Lo.

Menurut Lo, jika dia berinvestasi di sektor lain, belum tentu mendapatkan capital gain atau cuan sebesar itu.

Lo Kheng Hong juga pernah untung besar dari saham PT United Tractors Tbk (UNTR) yang merupakan momen awal dirinya mengeruk keuntungan besar dari investasi saham. Pada 1998, Lo membeli saham UNTR pada harga Rp 250/saham.

Selama 6 tahun Lo menginvestasikan uangnya pada saham ini. Si Warren Buffett-nya Indonesia ini sangat percaya dengan konsep value investing, sehingga selama 6 tahun ia ‘tidur’ dan tidak mengutak-atik saham UNTR.

BACA:  Lo Kheng Hong dan INKP

Baru pada 2004, harga saham UNTR sudah mencapai Rp 15.000/saham dan ia menjualnya. Lo Kheng Hong meraup untung hingga 5.900%.

Cerita seperti ini diulang pada saham-saham yang lain.Lo membeli saham INKP pada harga Rp 1.000/saham. Lalu 1,5 tahun kemudian ia menjualnya pada harga rata-rata Rp 10.000/saham. Lo mampu meraup untung 900% dari saham INKP.

Tentu sukses yang diraih Lo tidaklah instan. Wajar jika dirinya mengklaim dari hasil investasi saham menempatkan dirinya lebih kaya dari 99% lulusan Universitas Harvard Amerika Serikat (AS).

Lo dalam paparannya disebutkan ada 3.130 lulusan atau 1% lulusan Harvard yang memiliki harta senilai US$ 30 juta atau sekitar Rp 450 miliar (kurs Rp 15.000/US$) ke atas.

Pada 2004, Lo pernah ke Boston, untuk mengunjungi kampus Universitas Harvard yang mungkin menjadi kampus impiannya. Ia menyempatkan diri berfoto di samping patung John Harvard, yang tampaknya menjadi inspirasi baginya.

“Saya kuliah di Jakarta di Universitas yang tidak punya kampus. Setiap malam saya kuliah di gedung SMA PSKD di seberang RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) yang disewa universitas. Tetapi sekarang lebih kaya dari 99% lulusan Universitas Harvard,” kata Lo.

Lo juga menceritakan awal mula dirinya menjadi investor saham yang dimulainya dari menyisihkan gaji bulanan 31 tahun yang lalu.\

Dia pertama kali bekerja pada 1979, dengan gaji Rp 20.700 per bulan. Akhirnya di 1990-an itu dia menerima gaji sekitar Rp 350.000 per bulan, setelah bekerja selama 11 tahun.

Pada 1988, saat pemerintah mengeluarkan Paket Kebijakan Oktober 1988 atau Pakto 88, banyak pengusaha dalam negeri mendirikan bank, termasuk salah satu nasabah Lo.

“Lalu banyak bank-bank baru mencari karyawan. Nasabah saya buka bank dan saya diajak. Saya senang sekali, saya bisa mendapatkan bayaran 200% lebih tinggi dari gaji sebelumnya,” kisah Lo.

Lo mendapatkan gaji Rp 1 juta dan ditambah uang kesehatan Rp 50.000 setiap bulan. Mendapat gaji lebih dari dua kali lipat, tidak lantas membuat Lo foya-foya.

“Saya hidup hemat, hidup sederhana. Uang itu bisa saya belikan saham. Ada orang punya dikonsumsi atau taruh uang di bank. Jadi 31 tahun lalu, saya punya uang saya beli saham di Bursa Efek Indonesia. Lama-lama uang itu menjadi besar,” cerita Lo mengisahkan awal mula dirinya bersentuhan dengan investasi saham.

BACA:  Peter Lynch: Beli apa yang Anda pahami

“Berkat Tuhan itu begitu besar dalam hidup saya. Berkat Tuhan itu begitu ajaib dalam hidup saya. Tuhan berkati saya melalui saham-saham yang saya beli di Bursa Efek Indonesia.”

Lo Kheng Hong juga terang-terangan mengatakan enggan menyimpan uang di bank. Alasannya menyimpan yang di bank akan membuat investor perlahan-lahan jatuh miskin.

Hal inilah yang menjadi alasan utama Lo tidak menempatkan dana dalam jumlah besar di bank, tapi menginvestaikannya di pasar saham.

“Menyimpan uang di bank sebetulnya membuat kita miskin secara pelan-pelan karena nilai uang kita semakin hari semakin turun,” kata Lo.

Lo juga memilih tidak membeli obligasi atau surat utang, karena menurutnya bunga yang diberikan juga tidak besar. “Saya juga tidak membeli emas,” kata Lo.

Kenapa Lo tidak mau membeli emas?

Rupanya dia terinspirasi cerita dari Warren Buffett, si investor saham kawakan yang menjadi salah satu orang terkaya di dunia dengan kendaraan investasinya, Berkshire Hathaway.

Sewaktu Buffett mengambilalih saham Berkshire Hathaway, harganya hanya US$ 15/saham. Pada waktu itu harga emas US$ 20/troy ounce.

Pada 2012, Buffett membandingkan lagi, harga emas US$ 1.600/troy ounce, sementara harga saham Berkshire sudah US$ 120.000/saham. Dan di 2019, harga emas sempat US$ 1.250/troy ounce dan harga saham Berkshire sudah US$ 305.000/saham.

“Jauh lebih menguntungkan membeli saham dari pada membeli emas. Saya juga tidak pegang dolar [mata uang dolar AS]. Biasanya orang yang pegang dolar, suka mengharapkan yang buruk yang terjadi. Beda dengan orang yang pegang saham, dia selalu mengharapkan hal-hal yang baik yang terjadi,” ungkap Lo.

Jadi, Lo hanya tertarik membeli saham karena terbukti membuatnya kaya dan memiliki harta ratusan miliar.

Lo mengungkapkan alasan utama yang membuat dirinya berinvestasi saham, khususnya di pasar saham Indonesia.

“Bursa saham Indonesia menawarkan imbal hasil tertinggi diantara bursa saham utama di dunia bagi investor jangka panjang. Sudah terbukti! Saya bersyukur saya ada di dalamnya,” kata Lo.

Hingga saat ini, kata Lo, hampir 99% masyarakat Indonesia tidak percaya kalau investasi saham adalah pilihan terbaik. Masyarakat lebih menempatkan uang di bank atau dibelikan properti, dibanding beli saham.

“Kata-kata saham is the best choice masih tidak dipercaya oleh 99% masyarakat kita,” kata Lo.

Pengamat pasar modal, penulis dan sahabat Lo Kheng Hong, Lukas Setia Atmadjabanyak menuliskan kisah sukses sang maestro saham Indonesia tersebut.

BACA:  Sukses Berinvestasi Ala Buffet #SBAB : INVESTOR NILAI

Menurut Lukas, Lo orang yang sangat teliti. Ia bisa menghabiskan waktu lama membaca laporan keuangan.

“Beliau sangat teliti, sampai-sampai perlu membeli kaca pembesar. Supaya tidak keliru (baca laporan keuangan)…salah satu kunci sukses (investasi saham) Anda harus beli kaca pembesar supaya teliti,” kata Luka, saat menjadi moderator dalam acara CMSE tersebut, bersama dengan Lo.

Lukas juga menuturkan, usaha yang dilakukan Lo dalam meneliti laporan keuangan menunjukkan tidak sembarangan dalam memilih saham untuk investasi.

“Ini menunjukkan Pak Lo tidak membeli kucing dalam karung. Jadi bukan karena kebetulan. Pak Lo Sukses karena bisa menghitung,” tambah Lukas.

Lalu Lukas menceritakan, Lo Kheng Hong, pada 1998 membeli saham PT United Tractors Tbk (UNTR). Saat itu, pendapatan UNTR sekitar Rp 2 triliun-Rp 4 triliun.

Laba operasional UNTR waktu itu sekitar Rp 1 triliun. Namun laba bersihnya minus Rp 1 triliun, karena rugi kurs.

“Pak Lo dengan cermat menghitung. Ini perusahaan masih bagus dan punya prospek. Akhirnya Pak Lo membeli dan menaruh semua uangnya di saham ini. Pak Lo membeli di harga Rp 250/saham. ‘Tidur’ selama 6 tahun dan menjual kembali pada harga Rp 15.000/saham,” cerita Lukas yang diamini oleh Lo Kheng Hong.

Ini merupakan momentum awal dari kesuksesan Lo Kheng Hong sebagai investor saham.

Cerita seperti ini diulang pada saham-saham yang lain. Pada saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), Lo membeli pada harga Rp 1.000/saham. Lalu menjualnya pada harga rata-rata Rp 10.000/saham.

Dari saham INKP, Lo berhasil meraup cuan besar dari Rp 35 miliar menjadi Rp 350 miliar. Dan ini didapat dalam kurun waktu 1,5 tahun.

Artinya pada saham UNTR, intinya, kata Lukas, kemampuan menganalisis merupakan kunci sukses Lo Kheng Hong. Lo mampu meraup cuan hingga 5.900% dari saham UNTR dan 900% dari saham INKP.

Selain itu, tambah Lukas, kelebihan Lo sebagai seorang investor saham adalah bisa mengontrol emosi.

“Ketika harga saham naik banyak, beliau tidak euforia. Ketika harga saham turun banyak, beliau juga tidak terpuruk,” kata Lukas.

Lo juga dinilai sebagai orang yang sabar sebagai seorang investor. “Pemikirannya sederhana, kalau untung 10% saja kita sudah jual. Kita tidak mungkin mendapatkan keuntungan lebih besar dari itu,” tambah Lukas.

sumber : cnbcindonesia.com