oleh: Lukas Setia Atmaja

Aktor favorit saya adalah Marlon “The Godfather” Brando. Maka, saya senang punya teman baru bernama Marlon, walau nama keluarganya Suyanthio. Dia lahir di Makassar 29 tahun silam. Kehidupannya penuh warna.

Sejak SMA, Marlon sudah rajin mencari tambahan penghasilan dari berjualan handphone. Sempat kuliah ilmu hukum beberapa semester di Makassar, Marlon memutuskan hijrah ke Jakarta tahun 2010. Dia sempat berbisnis barang kelontong dan distribusi gas. Oktober 2017, Marlon menikah dan melepas semua bisnis untuk menjadi investor saham penuh waktu.

Marlon berkenalan dengan dunia saham awal 2008. Seperti kebanyakan orang, ia bermimpi kaya di bursa saham, dengan cara trading saham. “Setelah trading beberapa bulan, saya rugi banyak akibat trading saham gorengan berkolesterol tinggi,” katanya.

Marlon lantas mengubah strategi investasi dari trading jangka pendek ke investasi jangka panjang. Awalnya dia berinvestasi dengan hanya melihat rasio valuasi saham seperti Price to Book Value (PBV) dan Price to Earnings (PER). Di kemudian hari, ia memperhatikan aspek fundamental lain, seperti manajemen, arus kas, kualitas aset serta kualitas dan kesinambungan penjualan dan laba bersih.

Saham pertama yang ia beli dengan pendekatan analisis fundamental dan horizon investasi jangka panjang adalah Gajah Tunggal (GJTL). Ia membeli GJTL di harga Rp 210, dijual setahun kemudian Rp 430. Untuk pertama kalinya Marlon menikmati keuntungan besar dan membuat “ketagihan” mencari saham lain yang prospektif. Ia menemukan saham Media Nusantara Citra (MNCN), membeli di harga Rp 240, dan naik jadi Rp 1.000 dalam tempo 15 bulan.

Sukses dengan GJTL dan MNCN, Marlon mulai berpikir, bisakah ia hidup hanya dari berinvestasi saham? Ia lalu berdiskusi dengan kedua orang tuanya. “Mereka tidak punya pengalaman investasi saham sehingga menyarankan saya untuk tetap bekerja,” kata Marlon, “Investasi saham sebagai kegiatan sampingan saja.”

BACA:  Lo Kheng Hong Akumulasi GJTL diatas 5%

Saat menggumulkan ide menjadi investor saham penuh waktu, Marlon menemukan artikel tentang investor senior seperti Lo Kheng Hong dan Sukarto Bujung. Mata Marlon nulai terbuka dan otaknya mulai “tercuci” oleh kisah hidup para legenda saham tersebut.

Dia menjadi lebih yakin bahwa kesuksesan investor sukses kelas dunia seperti Warren Buffett ternyata bisa ditiru. Akhirnya, di usia yang relatif muda, 27 tahun, Marlon memutuskan untuk mengikuti jejak Lo Kheng Hong, menjadi investor saham penuh waktu.

“Saya mendapat pencerahan bahwa trader dan investor saham itu berbeda jauh. Menjadi investor saham membuat gaya hidup saya jadi lebih hemat. Saat mendapat keuntungan besar, saya menginvestasikan kembali keuntungan tersebut di saham, bukan untuk foya-foya,” kata Marlon.

Tahun 2011, Marlon membeli saham Lippo Cikarang (LPCK) di harga Rp 430. Tidak lama kemudian, terjadi bencana tsunami di Jepang. Marlon membaca berita bahwa beberapa pabrik di Jepang akan direlokasi ke sekitar Jakarta, dan mulai berharap keuntungan besar dari LPCK.

Setelah memegang saham LPCK selama dua tahun, ia menjual di harga Rp 3.500. “Meski untung banyak, saya merasa ada yang salah karena saham ini kemudian naik menjadi Rp 12.000-an,” kata Marlon sembari tersenyum.

Setelah menjual saham LPCK, Marlon menaruh uangnya di beberapa saham lain, salah satunya adalah Indah Kiat (INKP). Ia membeli INKP tahun 2015 di harga sekitar Rp 790-an. Setelah dua tahun, saham INKP naik tinggi dan Marlon menjualnya di harga Rp 4.500-an.

Seperti kasus LPCK, Marlon “membuat kesalahan” yang sama karena saham INKP naik terus menjadi Rp 20.000! Menyesalkah dia? “Saya belajar untuk tetap bersyukur apa pun kondisi yang kita alami, karena bersyukur merupakan jalan untuk menikmati hidup yang indah ini,” kata Marlon.

BACA:  BAB 6 - Carilah Perusahaan Franchise

Tidak semua saham ia beli memberikan keuntungan. Ada kalanya Marlon harus menelan pil pahit pembelajaran. Ia pernah membeli saham Dayaindo Resources Internasional (KARK) yang akhirnya delisting. “Di sini saya belajar perlunya mempelajari dan memeriksa ulang laporan keuangan emiten,” kata Marlon.

Marlon juga pernah membeli saham Buana Listya Tama (BULL) yang sempat di-suspend beberapa tahun oleh Bursa Efek Indonesia. “Pelajaran penting untuk memperhatikan kualitas aset dan kualitas laba bersih perusahaan secara menyeluruh, dan pentingnya memahami bisnis dan kondisi keuangan perusahaan serta kemampuan membayar utang,” jelas Marlon.

Setelah suspensi atas saham BULL dilepas, Marlon segera menjual rugi (cut loss) . “Saya belajar untuk cepat mengambil keputusan ketika terjadi perubahan fundamental perusahaan yang merugikan, meskipun posisi saham saya masih merugi,” tegas Marlon.

Meskipun demikian, kinerja investasi saham Marlon termasuk fantastis. Selama periode 2009 hingga 2018, Marlon berhasil menumbuhkan modalnya rata-rata 55% per tahun! Bandingkan dengan bunga deposito yang hanya 6% per tahun.

“Kita sangat bisa hidup layak dari investasi saham penuh waktu. Syaratnya, berinvestasilah secara benar, yakni membeli saham perusahaan bagus yang salah harga. Meminjam perkataan Pak Lo Kheng Hong, carilah Mercy yang dijual seharga Xenia,” nasihat Marlon. Pembaca ingin mencoba? Good luck.♦

Lukas Setia Atmaja
Financial Expert Prasetya Mulya Business School.