Investor kawakan Indonesia Lo Kheng Hong mengutarakan alasan dirinya menambah kepemilikan saham di PT Gadjah Tunggal Tbk (GJTL).

Sekali lagi, Warren Buffett Indonesia yang juga penganut prinsip value investing ini, bisa dibilang jitu saat memilih saham dan bisa memberikan cuan ratusan persen.

“Ketika pandemi harga sahamnya turun ke Rp 300-san, jadi saya membelinya,” kata Lo, kepada CNBC Indonesia, Jumat (8/1/2021).

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Lo Kheng Hong menggenggam 176,48 juta saham atau setara dengan 5,06% kepemilikan. Data ini muncul pada laporan KSEI pada Kamis (7/1/2020).

Sementara itu, pada hari sebelumnya, Rabu (6/1/2020) nama LKH belum muncul pada daftar kepemilikan GJTL di atas 5%. Hal ini mungkin terjadi, karena kepemilikan LKH sebelumnya masih di bawah 5% sehingga tak tercatat di laporan KSEI.

Menurut Lo, Gajah Tunggal adalah pabrik ban terbesar di Asia Tenggara. Hingga sembilan bulan pertama 2020, Gadjah Tunggal membukukan penjualan Rp 9,62 triliun.

Selain itu, nilai buku (book value) per saham sebesar Rp 1.782, sehingga Lo menilai saham ini murah. Sementara itu, Gadjah tunggal tercatat punya ekuitas Rp 6,21 triliun, laba operasi Rp 763,81 miliar. Tapi pada kuartal III-2020, Gadjah tunggal masih merugi Rp 104,6 miliar.

Jika Lo mulai membeli saham ini dari harga Rp 300/unit, maka diestimasi dia sudah membukukan cuan 136% jika dihitung dari harga penutupan sesi I, Jumat ini (8/1) di Rp 710/unit.

Sebelumnya, LKH memang berkali-kali menyebut harga GJTL salah harga, yang mencerminkan harganya yang cukup murah.

“Kalau tidak salah harga, saya tidak disini. Kalau Rp 3.000 saya tidak datang, tapi karena GJTL saat ini Rp 600,” kata LKH usai menghadiri paparan publik GJTL di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (12/12/2017), seperti dikutip dari lembaga riset reksa dana, Pasardana.

Lo Kheng Hong juga beberapa kali menyatakan investasi di perusahaan publik menjadi nilai tambah, karena menghasilkan produk maupun jasa yang hampir setiap kali dapat ditemui di kehidupan sehari-hari.

Contohnya, kata Kheng Hong, hampir semua orang tidak asing lagi dengan produk personal care PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Produk familiar mie instan seperti Indomie, juga mudah ditemui masyarakat yang diproduksi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

“Berangkat naik Avanza mobil sejuta umat beli di ASII [Astra International], kacanya beli di Asahi, bannya di GJTL [Gajah Tunggal] atau Mulitistrada,” paparnya pada pertengahan 2019.

Pada perdagangan sesi I Jumat (8/1/2021), saham GJTL melesat 7,58% atau naik 50 poin menjadi Rp 710. Saham ini diperdagangkan pada range Rp 655 sampai Rp 730 dengan nilai transaksi Rp 27,34 miliar. Tercatat investor asing lebih banyak melakukan aksi jual dengan nilai jual bersih Rp 253,47 juta.

Sumber : CNBCIndonesia.com