Daftar di atas adalah data yang sudah terkonfirmasi karena tercantum di daftar kepemilikan saham di atas 5% maupun laporan keuangan emiten terkait. Lo Kheng Hong tercatat memiliki 6 emiten yang terdiversifikasi di berbagai sektor seperti keuangan, media, tambang, otomotif dan transportasi.

Jika dihitung dengan harga saham per 8 Januari 2021, maka LKH memiliki aset saham bernilai hampir Rp 1 triliun. Penulis percaya bahwa masih banyak aset saham LKH lainnya yang belum terdeteksi oleh publik.

Petrosea (PTRO)

LKH pertama kali terdeteksi memiliki saham ini di tahun 2013 dengan menggenggam 79 juta lembar atau setara 7,92%. Jumlah saham ini terus diakumulasi oleh beliau setiap tahun bahkan ketika kondisi perusahaan sedang merugi. Diprediksi beliau telah memperoleh profit dari emiten baik secara capital gain maupun dividen.

Baca juga : Melihat Jejak Lo Kheng Hong di saham PTRO

Mitrabahtera Segara Sejati (MBSS)

Tidak langsung berada di kepemilikan di atas 5%, Lo Kheng Hong mulai akumulasi saham ini di tahun 2016 dengan 48 juta lembar saham atau setara 2,74%. Sulit untuk mengetahui apakah beliau sudah profit di emiten ini atau belum melihat kondisi perusahaan yang terus merugi dengan kinerja saham yang hanya jalan di tempat.

Global Mediacom (BMTR)

Adalah saham dengan publikasi paling heboh atas masuknya Lo Kheng Hong di saham ini, dimana muncul foto LKH bersama dengan pemilik BMTR yaitu Harry Tanoe. Foto bersama itu membawa sinyal positif dimana harga saham langsung terbang tidak lama kemudian.

 

Gajah Tunggal (GJTL)

LKH baru saja terdeteksi memiliki saham ini per tanggal 8 Januari 2021, namun penulis menduga bahwa beliau telah lama memegang saham ini. Dikarenakan beberapa tahun yang lalu seringkali muncul berita bahwa beliau menganggap GJTL adalah saham yang salah harga.

Setelah muncul kabar bahwa Lo Kheng Hong masuk ke emiten sektor otomotif ini, harga saham pun langsung ARA naik 25%. Dari keterbukaan informasi, LKH diketahui memiliki 176 juta lembar saham atau setara 5,06%.

Panin Financial (PNLF)

Berbeda dengan keempat saham di atas, penulis memperoleh informasi kepemilikan LKH dari laporan keuangan tahun 2019 yang diterbitkan emiten. Di LK tersebut LKH menjadi pemegang saham terbesar ketiga di bawah Paninvest dan Prudential dengan memiliki 650 juta lembar atau setara 2,03%.

Jumlah saham yang dimiliki oleh LKH di saham ini sebenarnya telah berkurang dari tahun sebelumnya di 2018 yaitu 837 juta lembar atau setara 2,62%. Ada kemungkinan beliau take profit ketika harga saham sempat mencapai level tertinggi di range Rp 400an.

 

Clipan Finance (CFIN)

Sama dengan PNLF, Lo Kheng Hong masuk ke dalam top 20 pemegang saham terbesar dan berada di urutan 17 dengan kepemilikan 24,7 juta lembar atau setara 0,62%. Jumlah ini bahkan berada di bawah kepemilikan investor kawakan Haiyanto yang berada di urutan ketiga dengan kepemilikan 162 juta lembar atau setara 4,08%.

Jika LKH masuk di saham CFIN pada tahun 2019, maka diprediksi beliau masih mengalami kerugian di atas 10%. Namun posisi beliau di saham sektor multifinance ini juga terbilang sangat kecil jika dibandingkan dengan saham lainnya.

Rumor Kepemilikan Lo Kheng Hong

Selain informasi yang sudah terkonfirmasi di atas, LKH juga dirumorkan memiliki saham di berbagai emiten berikut :

Perusahaan Gas Negara (PGAS)

Di webinar hungrystock minggu lalu terungkap bahwa Lo Kheng Hong membeli saham PGAS pada saat pandemi di harga Rp 1.100/lembar. Namun saat ini masih belum diketahui berapa jumlah saham yang dimiliki beliau.

Intiland Development (DILD)

Masih dari webinar yang diadakan oleh HungryStock, LKH diketahui berpartisipasi dalam webinar tersebut. Namun LKH tidak mengkonfirmasi apakah beliau memiliki saham di perusahaan properti tersebut.

HK Metals Utama (HKMU)

Jejak Lo Kheng Hong di perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur aluminium ini hanya terlihat dari foto pada saat beliau mengunjungi pabrik emiten. Namun diantara ketiga rumor ini, penulis pikir HKMU adalah saham yang paling tidak mungkin dimiliki oleh beliau. HKMU baru saja go public di tahun 2018, yang notabene terbilang sangat singkat untuk menilai kinerja perusahaan.

***

Jika membandingkan saham yang dimiliki oleh LKH dan penulis, maka akan diperoleh kesimpulan bahwa hampir semua saham LKH juga berada di portofolio penulis. Hanya BMTR saja yang tidak ada di dalam portofolio penulis.

Ini dikarenakan setelah nama Lo Kheng Hong terpublish sebagai investor BMTR, harga saham naik dengan sangat cepat. Dan juga penulis memang tidak pernah menaruh perhatian terhadap saham yang berada di sektor Investment Company karena bidang usaha yang tidak terlalu jelas.

**darmawan