Anda bisa memprediksi bahwa orang akan bersikap tamak, takut, atau bodoh, kata Buffett. Namun Anda tidak dapat memprediksi kapan atau bagaimana urutannya.

Pasar saham selalu dipengaruhi oleh wabah berkala dari emosi yang sangat kuat akan ketamakan dan ketakutan. Isaac Newton pernah berkata: “Saya dapat mengukur gerakan benda-benda langit, tapi saya tidak dapat mengukur kegilaan orang”. Warren Buffett sering memanfaatkan munculnya emosi yang mudah menular ini dengan bertindak berlawanan dengan sentimen yang sedang berkembang.

Jika kebanyakan investor tamak, Buffett menjadi “penakut” (atau setidaknya sangat konservatif). Jika kebanyakan investor ketakutan, Buffett menjadi “tamak” (atau setidaknya kemaruk bila dibandingkan biasanya). Dengan menggunakan strategi ini, Buffett telah meng- hasilkan banyak uang pada saat orang lain tidak sukses.

Pada tahun 1960-an, pasar saham mulai melonjak tinggi di mana harga-harga menjulang dan volume membubung tinggi. Banyak orang menjadi sangat bergairah di pasar  saham—dan hal tersebut berperan besar dalam menaikkan harga saham. Dengan kata lain, seperti balon yang sedang ditiup, banyak orang yang ingin turut memompakan udara panas ke dalamnya. Saat itu merupakan fase bulan—fase ketika ketamakan memanas—saat  Buffett hampir selalu memilih untuk duduk di pinggir.

Dia tidak akan melakukan investasi pada saat harga saham naik secara irasional dan dihargai berlipat-lipat dari nilai aktual fundamental bisnisnya—dengan  kata lain, situasi disaat harga telah terlempar bebas dari tarikan gravitasi kinerja bisnis aktualnya.

Pada akhirnya, sebagaimana telah diperkirakan sebelumnya, pasar saham yang melonjak di tahun 1960-an itu jatuh. Dan pada saat pasar saham runtuh, gerombolan besar investor menjadi sangat ketakutan, persis seperti yang biasa mereka rasakan setelah periode euforia yang irasional. Bukannya membeli saham, orang-orang malah melempar saham mereka, dan itu menyebabkan harga saham jatuh. Dan itu berarti mereka berhenti berinvestasi.

BACA:  BAB 19 - Pahami MR.MARKET dan Margin of Safety

Pada awal tahun 1970-an terjadi peristiwa penurunan pasar yang sangat terkenal. Orang menjual saham mereka karena takut. Di tahun 1973 —1974, perekonomian berada dalam kondisi resesi, segala hal terlihat muram, dan indeks Dow Jones menukik tajam hingga menembus poin di bawah 700. Setelah membaca buku ini sejauh ini, Anda mungkin sudah dapat memprediksi apa lagi  yang terjadi pada periode ini: Buffett mulai membeli. Bahkan, dia mulai banyak  membeli. Pada saat inilah, sebagai contoh, dia melakukan investasinya yang legendaris di Washington Post.

Sayangnya,  Buffett mengamati,  peralihan suasana hati yang tidak rasional —dari euforia ke kemuraman, dan kembali lagi—tidak terbatas pada investor-investor naif saja. Para profesional, termasuk manajer dana pensiun, sama rentannya. Pada puncak pasar di tahun 1971, Buffett mengungkapkan, perusahaan dana pensiun memasukkan seluruh dana yang mereka miliki ke pasar ekuitas. Tidak lebih dari 3 tahun kemudian, setelah harga jatuh, mereka hanya menginvestasikan satu dari lima dolar yang mereka miliki ke pasar ekuitas. Mereka benar-benar salah, simpul Buffett—ikut mabuk saat yang lain mabuk dan ketakutan saat vane lairTtakut. Merekalidak mengambil keuntungan dari harga yang rendah, malahan membeli saham saat harganya tinggi dan menjualnya saat harganya jatuh.

Buffett, tentu saja, bertindak lain. Dia melakukan investasi besar-besaran pada saat pasar menawarkan perusahaan bagus pada harga yang sangat rendah. Dia memanfaatkan saham perusahaan bagus yang berharga murah.

Kita juga tahu bagaimana Buffett menjadi sangat penakut selama harga saham Internet melonjak,  ketika orang-orang  membelinya  dengan tamak. Dia tidak kehilangan sepeser pun, pada saat jutaan orang Amerika bangkrut habis-habisan  gara-gara saham Internet. Periode antara takut dan tamak akan sering muncul dan mencengkeram masyarakat investasi. Anda harus bertindak persis seperti yang Buffett lakukan dalam situasi tersebut dan memanfaatkan emosi-emosi itu untuk keuntungan Anda.

BACA:  BAB 11 - Lihatlah Penurunan Pasar Sebagai Peluang Membeli

Berikut beberapa peraturan yang harus diterapkan saat memformulasikan strategi investasi “takut saat orang- orang tamak”:

Belilah saat orang-orang menjual dan juallah saat orang- orang membeli.  Program diri Anda untuk menjadi penakut pada saat kebanyakan investor mulai tamak. Kata Buffett, saham itu paling menarik saat hampir tak ada orang yang tertarik padanya. Ini berlaku untuk banyak pasar—real  estate   komersial adalah contoh bagus lainnya—tapi hal ini terutama berlaku pada pasar saham, di mana pergerakan besar-besaran dari arus investasi sangat mudah dideteksi. (Bahkan, dengan adanya liputan berita keuangan yang banyak ditayangkan oleh media sekarang ini, hampir tidak mungkin mengabaikan arus investasi). Pada saat orang- orang dalam kerumunan merasa ketakutan, mereka tidak tertarik membeli saham —tapi tepat pada saat itulah Anda seharusnya tertarik. Tentu saja, ikuti saran- saran Buffett yang lain dan jangan melakukan investasi buta atau tanpa berpikir. Hanya jika investasi yang dimaksud memenuhi kriteria-kriteria tertentu, barulah Anda bisa melakukan investasi tersebut.

Bersiaplah untuk bertindak cepat ketika muncul  peluang. Ketika indeks Dow Jones Industrial Average menembus batas terendah di tahun 1971 pada poin 580, Buffett me- nyamakan dirinya dengan “pria hiperseks di rumah bordil.” Bersiaplah untuk bertindak cepat dan berani ketika ketakutan menguasai dan harga saham jatuh.

Apa yang akan terjadi besok? Apakah pasar akan naik, turun, atau bergerak mendatar?  Bagi Warren  Buffett, itu  bukanlah  pertanyaan  yang menarik —kecuali apabila   ’’penyakit  menular”   tamak   dan   takut   akan   mempengaruhi   prospek investasinya  sendiri,  entah   melalui  penurunan   harga   dan   penciptaan   peluang (ketakutan) atau  dengan kenaikan harga  yang menutup peluang (ketamakan). Pada saat  peluang muncul, Buffett bersiap-siap untuk  bergerak.  Pada  saat  ketamakan menguasai, Buffett bersiap-siap untuk menunggu di luar arena.

BACA:  BAB 5 - Belilah Bisnis Bukan Saham