Ramalan jangka pendek mengenai harga saham atau obligasi tidaklah berguna, kata Warren Buffett. Ramalan itu lebih memberi Anda informasi mengenai para pe- ramalnya dan bukan informasi mengenai masa depan.

Ben Graham, penulis masalah investasi favorit Buffett, pernah heran mengamati betapa banyaknya profesional investasi—pialang saham, penasihat investasi, penasihat keuangan, dan sebagainya—yang  tampaknya sangat menekankan  pada peramalan pasar. Warren Buffett juga heran—dan lebih jauh lagi, ia memandang rendah peramalan pasar seperti itu. Dia menganggap  ramalan pasar jangka pendek seperti “racun” yang harus dijauhkan dari orang-orang yang mendekati pasar seperti anak-anak.

Buffett lebih suka berfokus hanya pada kinerja bisnis  dan tidak terganggu oleh tren yang lebih besar yang dia yakini tidak mungkin diramalkan secara akurat. Jika dia menemukan sebuah artikel yang isinya meramal masa depan —bahkan jika itu ditulis oleh ekonom terkenal di media yang punya reputasi—dia melewatkannya. Buat apa menghabiskan waktu untuk meramal, dia bertanya secara retoris. Waktu tersebut bisa digunakan untuk menganalisis sebuah bisnis.

Charlie Munger menyamakan obsesi terhadap prediksi pasar dengan teknik kuno peramalan nasib. Raja- raja jaman dulu, ungkapnya,  terbiasa membayar seseorang untuk menafsirkan isi perut domba yang dibelek. Peramal sekarang, tegasnya, tidak lebih baik dari seorang penyihir yang “membaca” usus domba.

Seperti yang dibahas sebelumnya, Buffett lebih suka menghabiskan waktunya untuk melihat hal-hal di mana dia memiliki peluang yang bagus untuk memahami sesuatu. Sebuah bisnis di dalam lingkaran kompetensi mudah untuk dipahami. Pasar saham adalah sebuah “misteri” bagi Buffett—dan itu bukanlah misteri yang bisa dipecahkan oleh setiap orang. Ya, selalu ada ramalan lain yang akan muncul, yang sering kali dibuat oleh orang- orang terhormat. Tidak masalah: Bagian terpenting  dari keberhasilan  Buffett adalah kemampuannya  untuk me- ngesampingkan ramalan semacam itu dengan menganggapnya sebagai gangguan, Ramalan hanya akan merintangi tindakan dan mengaburkan penilaian seseorang.

Mengapa? Sebagian karena ramalan menciptakan ilusi  ketepatan.  Ramalan semacam itu kelihatannya didasarkan pada data, dan analisisnya  seperti dikembangkan secara langsung dari data-data tersebut. Semuanya tidak benar, kata Buffett; bahkan, semakin tepat tampaknya sebuah ramalan, Anda harus semakin skeptis. Sekali lagi, intinya adalah melihat kinerja yang sudah terbukti dan bukan proyeksi dan prediksi. Jangan biarkan prognosis menjauhkan mata Anda dari sasaran; tetaplah fokus pada apa yang benar- benar penting. Tetaplah berfokus pada level perusahaan bukan level pasar; gunakan waktu Anda untuk menganalisis kinerja masa lalu dan masa kini perusahaan untuk mendapatkan informasi yang lebih baik mengenai masa depannya. Carilah peluang yang menjanjikan tersebut tanpa harus melibatkan peramalan dalam pembuatan keputusan Anda.

Buffett membeli National Indemnity pada tahun 1967, See’s Candies pada tahun 1972, Buffalo News pada tahun 1977, Nebraska Furniture Mart pada tahun 1983, dan Scott Fetzer pada tahun 1986. Mengapa tahun-tahun itu? Karena pada tahun-tahun tersebut, perusahaan-perusahaan itu go  public.  Mengapa perusahaan-perusaiHaan itu? Karena sahamnya dijual, karena perusahaan itu lulus dari evaluasi Buffett yang sangat ketat, dan karena harganya bagus. Berapa banyak tren yang lebih besar—kekuatan perekonomian nasional, arah indeks Dow Jones, desas-desus publik mengenai gubernur bank sentral —diperhitungkan? Jika Anda memegang kata-kata Buffett—dan tidak ada alasan untuk tidak melakukannya —jawabannya adalah: tidak sama  sekali.  Prediksi mengenai masa depan bukanlah bagian dari formula yang dia gunakan saat membuat keputusan untuk berinvestasi atau tidak.

Beberapa investor merasa bahwa ramalan membuat masa depan lebih jelas —dan bahwa ramalan berikutnya adalah hal yang akan membuat segala sesuatu menjadi jelas. Tidak masuk akal, kata Buffett; masa depan selalu tidak jelas. Menunggu masa depan menjadi jelas—entah melalui penggunaan  peramalan pasar atau perangkat-  perangkat lain yang berfungsi serupa—bisa berarti  menunggu selamanya. Jangan menunggu kepastian, saran Buffett; investasi adalah mengenai bertindak begitu Anda menemukan ada bisnis bagus yang diberkati dengan manajemen yang baik. Jangan dipusingkan oleh peramal nasib. Tentukan sasaran dan tarik pelatuk.

Dan jangan emosional. Ramalan kelihatannya berlawanan dengan emosi, bertaburan dengan fakta dan angka. Namun mempertaruhkan nasib Anda pada fakta- fakta dan angka-angka itu adalah tindakan yang 100 persen emosional. Tetaplah berada di wilayah yang mudah diamati. Jangan membuat perkiraan; buatlah penilaian yang informatif.

Sebagai ringkasan, berikut tiga tips mengenai bagaimana mengatasi ramalan dengan cara Buffett: Hilangkan keterlibatan ramalan apa  pun  dalam  keputusan investasi Anda.  Buffett tidak memperhatikan ramalan pasar saham jangka pendek; Anda sebaiknya juga begitu.

Alihkan  waktu  yang  akan  Anda  gunakan untuk  mendengar ramalan dengan  menganalisis track record bisnis.  Kita semua ingin mengetahui apa yang terjadi dengan masa depan, tapi kita tidak bisa. Tak seorang pun punya bola kristal; masa depan tak pernah pasti. Berkonsentrasi- lah pada apa yang sudah diketahui dan jangan meng- khawatirkan yang belum diketahui.

Kembangkan strategi investasi yang tidak tergantung pada  seluruh pergerakan pasar. Ingat, Warren Buffett—investor terbesar dunia—mengakui  bahwa dia tidak dapat mulai memprediksi pergerakan pasar.  Dan  kemungkinan    besar  Anda  juga  tidak  bisa. Berkonsentrasilah pada penyusunan portofolio yang bercirikan bisnis-bisnis solid yang sangat mungkin untuk sukses, tidak peduli apakah pasarliaik atau turun.

Semakin   bergejolak   atau    spekulatifnya   pasar    saham,   semakin   besar kemungkinan orang memanfaatkan ramalan—tapi pada saat itu pula ramalan punya peluang  untuk   tepat   yang  paling   kecil.   Semakin  seseorang   mengklaim  bahwa ramalannya di pasar yang bergejolak tepat, Andaharus semakin skeptis.