Pada saat berinvestasi, Anda perlu berpikir independen.

Berpikir independen adalah  salah  satu  kekuatan terbesar  Buffett,  dan  dia merekomendasikannya pada kita semua. Mungkin terdengar klise: Tentu  saja  Anda harus berpikir independen, bukan? Tapi, dalam kenyataannya, banyak dari kita menerapkan apa yang bisa disebut “berpikir dependen”, di mana pendapat kita dibentuk terutama oleh apa yang dipikirkan orang lain.  Itu bukanlah cara berpikir yang independen; bahkan, itu lebih mirip peniruan tanpa berpikir.

Karena telah meraih status setengah selebriti, Buffett mendapatkan banyak sorotan — dan, selanjutnya, banyak pujian dan kritik terhadap keputusan investasinya. Tapi Buffett tidak bergantung pada penilaian orang lain dalam membuat  keputusan-keputusan  tersebut. Dia kebal terhadap sorakan mereka yang memujanya,  dan dia merasa nyaman-nyaman  saja mengabaikan orang-orang yang mengutuknya.

Buffett memahami sebuah pelajaran penting dari Ben Graham. Anda benar atau salah bukan karena orang- orang setuju atau tidak setuju dengan Anda. Anda benar karena fakta- fakta dan alasan-alasan yang Anda miliki adalah benar.” Entah banyak orang, atau orang-orang penting, setuju atau tidak setuju dengan Anda tidak membuat Anda benar atau salah; pemikiran yang bagus yang dibuat berdasarkan fakta-fakta yang bagus membuat Anda benar.

Inilah inti dari pemikiran independen—menggunakan  fakta dan alasan untuk mendapatkan sebuah kesimpulan dan kemudian bertahan pada kesimpulan tersebut, tidak peduli apakah orang akan setuju atau tidak setuju dengan Anda.

Perenungan  mengenai euforia industri Internet (.Internet  bubble)   akhir-akhir ini menunjukkan nilai  pemikiran independen dan  menggambarkan bagaimana berpikir berdasarkan fakta dan alasan jauh lebih baik daripada berdasarkan opini publik yang beredar. Euforia tersebut merupakan sebuah periode menakjubkan dalam sejarah pasar saham dewasa ini. Selama masa-masa memabukkan tersebut, kelahiran industri baru yang menggairahkan (dan industri-industri  yang mengikutinya)  telah membangkitkan  ratusan perusahaan  dan menciptakan ribuan jutawan baru.

BACA:  BAB 19 - Pahami MR.MARKET dan Margin of Safety

Satu hal yang paling menakjubkan dari perusahaan- perusahaan Internet dan high-tech baru tersebut, tentu saja, adalah lonjakan secara meteorik pada harga saham dan kapitalisasi mereka. Beberapa perusahaan Internet yang baru berusia satu atau dua tahun bernilai lebih daripada  perusahaan-perusahaan  Fortune 500 yang sudah lama berdiri. Sebagai contoh EToys.com menembus harga 86 dolar per lembar saham dan mempunyai kapitalisasi senilai 10 miliar dolar. Kapitalisasi puncak Webvan.com adalah 7,5 miliar dolar.

Tidak diragukan lagi, jutaan investor menikmati laba luar biasa melalui surat-surat berharga perusahaan  high-     tech  vang mereka miliki. Orang-orang  menjadi kaya—dan menjadi kaya dengan cepat. Ironisnya, Berkshire Hathaway tidak berada dalam keadaan yang baik pada periode yang sama, dan harga sahamnya mencerminkan hal tersebut. Meskipun saham perusahaan-perusahaan  high-tech  menghasilkan  laba yang sangat besar, Buffett menolak untuk membeli selembar pun saham Internet atau menolak untuk ikut serta dalam gelombang “gold rush” baru ini dalam bentuk apa pun.

Tangan dekat-dekat dengan kawanan yang sedang mengamuk. Jika tidak, Anda dan investasi Anda mungkin akan terbawa arus. 

Konsekuensinya, Buffett dicerca banyak pihak. Dia dianggap tolol oleh para begawan investasi dan menuai kritik dari para pemegang saham. Dalam waktu satu hari penuh, media mempertanyakan  kemampuan  Buffett.

Mingguan  keuangan  Barron’s tanggal 27 Desember 1999 menulis tajuk berita: “Warren, What’s Wrong? Warren Buffett America’s Most Renowned Investor, Stumbled Badly This Year. Will His Berkshire Hathaway Recover?” (Ada Apa dengan Warren? Warren Buffett Investor Paling Ternama di Amerika, Jatuh Tersandung Tahun Ini. Apakah Berkshire Hathaway-nya Bakal Pulih)?” Media lain menuliskan tajuk berita berikut ini: “A Three Decade Legend Lose Some Luster,” “Is Buffett Washed Up?” dan “Tech Phobia May Topple Buffett.”

BACA:  BAB III - Pertahankan Temperamen Yang Tepat

Banyak orang merasa bahwa Buffett seharusnya berinvestasi di saham-saham perusahaan high-tech,  dan mereka tidak dapat memahami  bagaimana dia bisa melewatkan  peluang semacam itu. Namun, meskipun publik mencela—bahkan  menganggapnya tolol—dia tetap berteguh hati dan”tidak bergeming! Fakta dan alasan Buffett jelas: dia tidak memahami bisnis Internet ini dan oleh karena itu dia menjauhinya.

Dia tidak tahu manakah di antara perusahaan-perusahaan high-tech ini yang akan mempunyai keunggulan kompetitif jangka panjang dan bagaimana kinerja mereka 10 tahun  mendatang. Dia juga percaya bahwa psikologi pasar yang irasional bertanggung jawab terhadap sebagian besar harga saham perusahaan  high-tech tersebut.

Dalam situasi semacam ini, dia percaya, harga saham sebenarnya di-rancang olehorang-orang paling tamak, atau paling emosional, atau paling Tertekan—dengan kata lain, oleh orang-orang yang tidak memiliki kaitan dengan realitas jangka panjang. Hasilnya bisa jadi adalah harga saham yang “tidak masuk akal.”

Berdasarkan pemikiran ini, Buffett memutuskan untuk tidak berinvestasi pada perusahaan-perusahaan ini, meskipun jutaan investor jatuh bangun agar dapat membeli saham yang melonjak tinggi tersebut. Buffett merasa bahwa dia benar, karena fakta dan alasannya benar; dia tidak merasa bahwa dia salah hanya karena hampir semua orang tidak setuju dengannya. Di kemudian hari, pemikiran independennya terbukti benar pada saat euforia tersebut lenyap dan saham perusahaan high-tech runtuh.

Hasilnya, kebanyakan perusahaan Internet bangkrut, dan indeks Nasdaq yang sarat akan perusahaan-per- usahaan teknologi mengalami penurunan nilai lebih dari 75 persen. Ratusan miliar dolar menguap di pasar saham. Apa yang akan terjadi seandainya Buffett mengikuti opini publik dan bergabung dalam gerombolan Internet? Peniru an tanpa berpikir terhadap pendapat orang lain ini akan sangat merugikannya.

Berdasarkan  pengalaman  semaca ini, beberapa investor menyimpulkan  bahwa “strategi investasi melawan arus” lebih kuat daripada “strategi ikut arus” (istilah “melawan arus” mengimplikasikan berjalan berlawanan arah dari kerumunan yang ada). Namun sekali lagi, Buffett tidak setuju.

BACA:  BAB 21 - Baca, Baca Lagi, dan Berpikirlah

Jika kerumunan itu melakukan hal yang salah, pergi ke arah yang berlawanan 180 derajat tidak sepenuhnya tepat. Investasi semacam itu dilakukan berdasarkan jajak   pendapat,  bukan pemikiran, ungkap Buffett—dan setiap strategi investasi yang didasarkan pada jajak pendapat, dan bukan pemikiran, pasti strategi yang buruk.

Investasi adalah mengenai pemikiran—yang dilakukan dengan tepat dan independen. Dan, taruhannya tinggi. Buffett sangat menyukai kutipan dari filsuf Bertrand Russel:

“Kebanyakan orang lebih memilih mati daripada berpikir. Banyak yang seperti itu.”

Pelajaran yang bisa ditarik dari Buffett adalah mengandalkan fakta  dan alasan dalam membuat keputusan investasi Ânda. jangan membuat keputusan hanya karena hal tersebut paling populer atau karena berlawanan dengan arus.

Jangan pernah menukar pemikiran independen dengan pendapatan umum.  Jangan ikuti arus. Kerjakan PR Anda dan buat pilihan investasi Anda. Jangan biarkan diri Anda terbujuk hasutan orang lain atau membuat keputusan hanya karena hal itu sedang tren.

Jadikan  cara berpiki r independen  sebagai  aset terbesar  portofolio Anda.  Cerdas saja tidak cukup, kata Buffett. Banyak orang ber-IQ tinggi menjadi korban mentalitas kemmiinan. Pemikiran independen adalah salah satu kekuatan terbesar Buffett. Jadikan itu kekuatan Anda juga.

Jangan  menjadi investor “pelawan arus”  tanpa berpikir.  Buffett percaya bahwa melakukan segala sesuatu tanpa berpikir adalah hal yang salah. Jangan mengikuti arus tanpa berpikir dan jangan melawannya tanpa berpikir, dengan semangat asal berbeda. Dua hal itu mengarahkan Anda ke tempat-tempat yang berbahaya.

Kumpulkan fakta-fakta Anda, duduk, dan berpikirlah, saran Buffet. Tidak ada yang bisa mengganti hal tersebut