Wall Street, kata  Buffett, adalah  satu-satunya tempat di  mana orang-orang pergi ke sana naik Rolls Royce untuk mendapatkan nasihat dari orang-orang yang naik subway.

Jika Anda melakukan “perjalanan konseptual” di Wall Street —atau dengan kata lain, mencermati berbagai gagasan yang Anda temui—Anda  akan mengetahui bahwa ada begitu banyak skema pemilihan saham yang dapat digunakan. Anda bahkan mungkin berpikir ada beberapa metode yang cukup menarik: analisis teknis, market tim- ing, jual beli dalam kurun satu hari (intraday  trading), wave theories (diturunkan dari teori fisika yang menyebutkan bahwa cahaya ditransmisikan seperti gelombang, sama halnya dengan osilasi magnet dan medan elektrik—penerjemah), detrending oscillators, dan lain-lain. Semua itu adalah contoh- contoh metode yang digembar-gemborkan  kepada investor agar dapat memahami  pasar saham dan— seolah-olah—sukses sebagai investor.

Dari manakah semua teknik ini berasal? Terutama dari dua sumber: profesional keuangan dan akademisi, pihak-pihak yang hampir semuanya memiliki kompetensi yang mengagumkan. Dan konsep mereka sepertinya berbobot, setidaknya kalau dilihat sepintas.

Ambil contoh “analisis teknis”. Orang yang menggunakan  keahlian yang langka ini memfokuskan diri hanya pada data pasar. Mereka memperhatikan pergerakan harga, volume transaksi, dan bentuk grafik yang menunjukkan kinerja harga saham — berdasarkan teori (1) bahwa harga pasar menunjukkan segala hal yang perlu diketahui mengenai saham tertentu dan (2) bahwa seseorang tidak mungkin dapat menyangkal kebijaksanaan kolektif tersebut.

Teori yang bagus? Tidak, jika Anda ada di kubu Buffett! Seorang analis teknis pernah menyimpulkan kinerja pasar saham dalam satu hari tertentu seperti ini: Hari itu merupakan bonus bagi para trader karena indeks- indeks utama memiliki air pocket  yang cenderung menurun menyusul strategi dasar First Hour berpola Flip Top … kenaikan harga pada volume yang menurun di akhir bulan dan aksi harga artifisial di hari Senin dengan meningkatnya peringatan  ancaman teror membuat indeks- indeks tersebut rentan terhadap air pocket.

BACA:  BAB IV - Bersabarlah

Volume NYSE hanya 1,4 miliar … penelusuran kembali senilai kira-kira 1 50 antara batas atas kenaikan harga saham 45,78 dan batas bawah 17.32 10/02 adalah 31,55 dan harga saat ini menetapkan kisaran transaksi 17 hari pada wilayah penelusuran ini.”

Anda paham paragraf di atas? Bila tidak paham, jangan berkecil hati. Apakah menurut Anda investor terhebat dunia, Warren Buffett, memperhatikan omong kosong semacam itu?

Tentu saja tidak.

Sebagai investor potensial, Anda akan dibombardir terus-terusan dengan berbagai macam strategi investasi yang didasarkan pada grafik, volume, dan pergerakan harga. Anda akan dibanjiri peluang-peluang untuk men- dapatkan kekayaan secara instan. Hidupkan TV Anda pada pukul 09.35 papi WIB unfuFmendengarkan Market Re- view.

Misalnya, pertimbangkanlah  tawaran menggoda ini. “Dapatkan sistem transaksi saham yang menghasilkan  keuntungan  sampai dua digit pada hampir semua transaksi! Transaksi langsung berdasarkan grafik Bursa Saham”; “Sistem baru yang revolusioner… menghasilkan 34 sampai 45 persen Return Hanya dalam Waktu Satu Minggu”; dan seterusnya.

Untungnya, seseorang telah  melakukan terobosan dan  menyatakan apa  yang seharusnya sudah jelas: Sangkaisar tidak  memakai  baju.  Menurut Warren Buffett, analisis yang hanya didasarkan pada grafik, volume, dan pergerakan harga tidak berarti apa-apa kecuali omong kosong tak bermakna.

Analisis teknis dijalankan hampir benar-benar   ber-  lawanan  dengan kerangka konseptual Buffett mengenai investasi. Analisis teknis menekankan pada volume, grafik, dan pergerakan harga dalam memilih saham. Buffett menekankan pada nilai sebuah  bisnis.

Tentu saja, para penganjur analisis teknis dapat dengan cepat menunjukkan contoh- contoh yang membuktikan kekuatan model mereka. Dan, tentu saja, pasti ada beberapa kasus tertentu di mana para investor mendapatkan banyak uang melalui analisis teknis. Namun saya tahu pasti, bahwa tidak ada praktisi analisis teknis yang bernilai 44 miliar dolar. Jadi, siapa yang akan Anda percayai?

BACA:  24 - Jadilah Investor Yang Andal [END]

Saya mendorong para calon investor yang terjadi dengan kesuksesan investasi jangka panjang untuk mem-   baca artikel Warren Buffett, “The Superinvestor of Graham and Doddsville”, yang dikutip dalam buku Graham, The   Intelligent  Investor.  Artikel ini membahas mengenai keberhasilan sekelompok investor nilai yang belajar dari Benjamin Graham dan David Dodd, dan yang terus- menerus mempunyai kinerja yang melampaui Standard & Poor’s (S&P) 500 Stock Index dari awal hingga akhir tahun.

Investor-investor tersebut, ungkap Buffett, mencari selisih antara (1) nilai bisnis dan (2) harga sebagian kecil dari bisnis tersebut di pasar. Metode ini hampir seratus persen berlawanan dengan analisis teknis, yang sangat berkonsentrasi pada model, pola, data, dan sebagainya. Investor yang cerdas, tegas Buffett, adalah investor yang berorientasi pada nilai.

Investasi nilai tidak seksi. Tidak glamor atau bahkan menantang dan sudut pandang intelektual murni. Pada kenyataannya, investasi ini cenderung lamban, berat, dan bahkan sedikit membosankan—kura-kura, bukan kelinci. Investasi semacam ini tidak menimbulkan kesenangan  bagi seorang pelaku transaksi yang aktif. Dan tidak memberikan  jaminan kesuksesan, sebagaimana halnya model analisis teknis.

Namun hasil yang diraih Buffett dan investor-inves- tor Graham and Dodd lainnya berbicara sendiri. Investasi nilai memberikan kerangka kerja intelektual yang telah terbukti bagi para  investor. Singkat kata, berinvestasi seperti Buffett menuntut Anda untuk mengabaikan hal- hal yang tidak masuk akal. Abaikan strategi-strategi investasi yang rumit dan canggih yang hanya sedikit atau bahkan tidak memberi Anda informasi mengenai fundamental bisnis.

Berikut ada tiga hal yang dapat Anda lakukan untuk dapat memahami apa yang benar- benar penting pada saat membuat keputusan investasi:

Abaikan    grafik.   Seorang investor nilai  tidak  peduli  dengan grafik.  Buffett memberikan  contoh yang kuat mengenai pengabaian grafik saham pada saat membuat keputusan investasi. Abaikan para ahli grafik yang mengklaim bahwa kesuksesan mereka memilih saham didasarkan pada catatan volume dan harga saham.

Jika ada orang yang mengatakan bahwa mereka mempunyai metode yang “tak mungkin salah”  untuk menjadi kaya di  pasar saham, larilah, jangan hanya berjalan ,  ke pintu keluar terdekat. Ingat, kunci kesuksesan investasi adalah kesabar- an dan disiplin.

Berinvestasilah seperti Benjamin Graham. Graham menyuruh para investor untuk “mencari selisih antara nilai bisnis dan hargajebagiaixkedl  dari bisnis tersebut di  pasar?’   Ini adala kunci dalam investasi nilai, dan ini jauhlebih produktif daripada pusing mempelajari ratusan grafik saham.

Prospektus  sebagian  besar   reksadana   menyatakan   —dalam  huruf  kecil—bahwa kinerja masa lalu tidak menjamin kesuksesan di  masa depan. Buffett mengatakan hal yang sama mengenai pasar: Jika sejarah mengungkapkan jalan menuju kekayaan, para pustakawan pasti akan kaya.

BACA:  BAB 14 - Perhatikan Baik-Baik Manajemennya