Penurunan  pasar  bukanlah  pukulan;  tetapi  peluang  membeli. Jika  orang kebanyakan mulai lari meninggalkan saham yang bagus, berlarilah untuk mendapatkannya.

Sebuah artikel khas surat kabar yang terbit pada musim panas tahun 2004 melaporkan bahwa Dow Jones Industrial Average “merosot tajam hampir 150 poin” ke tingkat terendah baru di tahun 2004, karena para investor “menjual sahamnya akibat laporan mengenai lapangan kerja yang mengecewakan  dan harga minyak yang terus membubung” dan “melakukan  obral besar-besaran  dua hari berturut-turut”  karena kekhawatiran  terjadinya inflasi dan pertumbuhan lapangan kerja yang lamban, yang mengancam akan “menghalangi pemulihan ekonomi yang berkelanjutan dalam jangka panjang.” Dan seterusnya dan seterusnya. Hapus angka-angka pada paragraf awal, dan kalimat itu bisa digunakan untuk semua artikel sejenis dalam beberapa dekade terakhir. Hal- hal buruk terjadi di luar sana, dan pasar jatuh. Peristiwa- peristiwa menggembirakan terjadi, dan pasar bangkit.

Kemudian pasar jatuh lagi, dan Wall Street—serta industri di sekitar Wall Street— panik. “Kepanikan” adalah sebuah kata yang telah dihapuskan dari kosa kata Wall Street, tetapi dalam realita, mentalitas panik masih ada di situ. Sebagian besar orang yang menanam uang di pasar saham membenci saat harga saham jatuh. Sisi terbaiknya bila mereka memandang  koreksi pasar sebagai kemunduran  dan sisi terburuknya  bila mereka me- mandangnya  sebagai bencana. Ketika keyakinan  mereka hilang, mereka “menghentikan kerugian mereka” dan melakukan obral di pasar.

Meski begitu, pada saat pasar merosot, setidaknya ada satu investor yang tidak menjual sahamnya dan tetap mempertahankan  yang ada. Warren Buffett, sekali lagi, menunjukkan hal yang sama sekali berbeda dengan pendapat umum di Wall Street. Sebagian besar orang menjual pada saat yang benar-benar salah—ketika  harga jatuh. Buffett justru menyukai  saat harga jatuh karena hal tersebut merupakan peluang untuk membeli. Lebih jauh lagi, katanya, investor yang cerdas harus belajar untuk merasa nyaman dengan volatilitas (keadaan yang mudah berubah) pasar. Jika kita tidak pernah mengalami guncangan hebat — jika kita tidak mengalami kemerosotan yang membuat Wall Street histeris —kita tidak akan pernah mendapatkan peluang besar yang terbuka lebar.

BACA:  BAB 9 - Terapkan Ketidakaktifkan, Bukan Hiperaktivitas

Sebagian besar investasi terbesar Buffett dilakukan baik pada saat pasar turun, ketika harga saham bisnis-bisnis  hebat merosot (bersama saham-saham  lain), atau pada saat perusahaan bagus mengalami kesulitan sementara yang masih dapat diatasi dan harga saham mereka turun.

Washington  Post,  GEICO, dan Wells Fargo adalah contoh bagaimana Buffett menyambar kesempatan pada saat penurunan pasar untuk berinvestasi demi masa depan. Pada tahun 1973, pasar saham sedang jatuh, menyebabkan harga saham Washington Post turun hingga sekitar 6 dolar per lembar, dan diikuti dengan stock split  (pemecahan saham). Buffett meraih peluang tersebut, mengucurkan10,6  juta dolar ke perusahaan itu.

Lebih dari 30 tahun kemudian, harga 6 dolar per lembar saham tersebut sekarang menjadi 900 dolar lebih per lembar, saham termahal kedua yang ada di New York Stock Exchange setelah Berkshire Hathaway itu sendiri. Sekali lagi, Buffett membeli sebuah bisnis yang solid pada saat sahamnya dijual dengan potongan harga yang besar. Hal seperti inilah yang dilakukan Buffett dengan sangat baik. Dia tetap mencari saham-saham yang dihargai kurang, yang nilainya lebih tinggi dari harganya, seperti membeli uang satu dolar dengan harga 40 sen.

Carilah    bisnis   berkualitas    yang   didiskon   karena    alasan-alasan   selain fundamental bisnis atau kualitas manajemennya. Karena keirasionalitasan  pasar keuangan, yang amat sering dikendalikan oleh ketamakan atau ketakutan, harga saham bisnis bagus sering tenggelam, membuka peluang besar untuk membeli saham pada harga yang murah.

Dengan kata lain, irasionalitas  pasar terkait dengan bisnis yang mestinya tidak diperlakukan dengan cara yang sama seperti bisnis-bisnis lainnya —tapi itulah yang terjadi. Ini adalah peluang yang layak disambar.

Pada tahun 1976, saham GEICO merosot dari 61 dolar perlembar menjadi 2 dolar. Singkatnya, perusahaan tersebut benar-benar berada pada posisi keuangan yang sangat goyah.

BACA:  Bab 8 - Konsentrasikan Investasi Saham Anda

Buffett yakin bahwa GEICO akan pulih karena perusahaan ini memiliki franchise bisnis yang sangat bagus, sebuah keunggulan kompetitif yang tak terkalahkan dalam bisnis asuransi, dan manajemen yang kuat.

Konsekuensinya,  Buffett mulai  mengakumulasi saham GEICO, dan  akhirnya menginvestasikan 46 juta dolar ke perusahaan tersebut. GEICO telah ‘salah dinilai’ menurut Buffett; yang harus dia lakukan hanyalah melakukan investasinya, dan menunggu sampai penilaian yang lebih tepat dilakukan. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, penilaian ulang pun dilakukan. Kepemilikan senilai 46 juta dolar berubah menjadi kepemilikan senilai miliaran dolar.

Pada tahun 1990, Buffett membeli 5 juta lembar saham Wells Fargo Bank pada saat bisnis perbankan sedang terpukul, akibat rumor mengenai pemberian pinjaman yang meragukan dan iklim bisnis yang buruk. Wells Fargo khususnya memiliki masalah yang disebabkan oleh melemahnya pasar real estate  California. Namun Buffett menyukai Wells Fargo. Dia menyukai tim  manajemennya, dia menyukai bisnisnya, dan terutama karena dia menyukai harga sahamnya yang turun.

Pesan moral kisah ini adalah—dan banyak lagi kisah    serupa—bahwa Buffett membeli banyak saham pada saat bisnis yang bagus dijual dengan harga diskon dikarenakan kondisi bisnis dan kondisi pasarnya. Hampir setiap bisnis yang kuat akan menemui kesulitan pada suatu saat, dan harga sahamnya akan jatuh. Hal ini acap kali merupakan saat yang sangat bagus untuk membeli, karena pada akhirnya pasar saham akan mengetahui nilai riil perusahaan tersebut, dan harga saham akan melesat.

Guru Buffett, Ben Graham, pernah menulis:

“Investor yang membiarkan dirinya lari tunggang langgang atau khawatir berlebihan dikarenakan penurunan pasar atas surat berharga yang dia miliki, sesungguhnya telah nekat mengubah keunggulan fundamentalnya menjadikerugian fundamental.

Fluktuasi pasar hanya mempunyai satu makna penting bagi investor sejati. Fluktuasi pasar mem- berinya peluang untuk membeli dengan bijak pada saat harga turun tajam dan menjual dengan bijak pada saat harga meningkat tinggi.

BACA:  BAB 17 - Tetaplah Berada Dalam Lingkaran Kompetensi Anda

Bagaimana Anda dapat menyuntikkan sihir Buffett ke dalam teknik investasi Anda sendiri?

Simak hal-hal berikut:

Ubahlah cara berpikir Anda dalam berinvestasi.  Program ulang pemikiran Anda. Belajarlah untuk menyukai  pasar yang tenggelam karena hal itu menyajikan peluang. Jangan ikut-ikutan dengan kebanyakan orang dan menekan tombol panik saat pasar jatuh.

Selalu mencari  nilai.  Investasi terbesar Buffett dilaku- kan pada saat harga saham turun karena kondisi pasar atau karena perusahaan mengalami kesulitan sementara. Kuncinya adalah mengetahui perbedaan antara kemunduran sementara dengan kegagalan fatal yang nyata yang terjadi di perusahaan.

Sambarlah peluang ketika tiga variabel Buffett muncul  bersamaan.  Ketika sebuah  bisnis yang kuat dengan keunggulan kompetitif yang bertahan lama, manajemen yang kuat, dan harga saham yang rendah muncul pada layar investasi Anda, sambarlah peluang itu— meskipun  Anda memulai hanya dengan jumlah lembar saham yang sedikit. .

Buffett mengatakan bahwa investor tidak rugi pada saat pasar jatuh —hanya “noninvestor” yang rugi. Oleh karena itu, jadilah seperti Buffett: Jadilah investor.