Sebagai investor retail tentunya tidak ada kewajiban untuk menentukan batas-batas tertentu dalam men-screening  emiten-emiten yang akan di investasikan, tak seperti layaknya manager investasi yang mengharuskan target-target khusus sehingga sangat berpengaruh terhadap keputusan mereka dalam berinvestasi. Investor retail memiliki keleluasaan waktu maupun tindakan dalam berinvestasi sehingga sangat bebas, tapi saking bebasnya bisa jadi terbawa arus dalam hiruk pikuk pasar modal sehari-hari.

Cukup prolognya, sekarang mulai cerita bebasnya ya! oce.. lanjut Tanggal 26 Desember 2019 saya membeli Ebook Triwulan III dari Instagrarm @BACASAHAM yang sekaligus pemilik channel Youtube BACA SAHAM. dengan niatan kedepannya saya berharap akan lebih mudah untuk dapat belajar menganalisa fundamental perusahaan dengan metode value investing.

Pada hari yang sama saya langsung dimasukkan grup WA support + grup alumni ebook. Setelah meresapi ebook yang dibuat oleh mimin Chris (Baca Saham) saya memutuskan untuk membeli beberapa saham yang dibahas dalam ebook, dan beberapa lainnya. Setelah beberapa minggu kemudian merebak kabar berita mengenai virus CORONA dari wuhan, tiongkok yang mengguncang dunia tak terkecuali IHSG kena imbasnya juga dari yang sebelumnya 6274 pada awal januari 2020 turun hingga 5884, yakni 6,21% begitupun portfolio saya. Melihat mayoritas emiten dalam portfolio didominasi dengan font berwarna merah tentunya sensasi tersendiri untuk berlatih mental menjadi seorang investor (meski masih retjehan ya) , hal ini dapat menyebabkan susah untuk SWAN (sleep well at night). hehe..

Ketika harga saham turun, saya average down beberapa saham yang pada akhirnya menguras semua dry powder (uang cadangan) yang ada di RDN -Rekening Dana Nasabah-. Ketika peluru sudah habis dan pasar masih dalam koreksi tidak banyak lagi yang bisa saya lakukan.

Disinilah awal kesalahan saya, karena entah bagaimana bisa seperti secara tidak sadar terbawa arus, tanpa menilai secara mendalam saya membeli emiten yang seharusnya belum saatnya untuk dibeli dan bahkan ada 2 emiten yang asal beli karena melihat koreksi yang menggiurkan, tanpa melihat dan menganalisis terlebih dahulu secara mendalam. Karena ada langkah saya yang salah hingga berujung pada portfolio merah yang dikhawatirkan berkepanjangan karena saya membeli diharga yang “agak mahal” yakni diatas harga wajarnya karena takut kehilangan momen.

Ternyata memang ini sering terjadi pada investor pemula bahkan mungkin umum terjadi pada pelaku pasar modal yang melakukan transaksi harian _trader_. Akui Kesalahan, Lalu Perbaiki Setelah saya membaca literatur tentang warren buffet, beliau pernah membeli tiga lembar saham Cities Services Preferred dengan harga $ 38 per lembar.

Buffett muda bertahan pada saham tersebut meskipun harga turun dengan cepat, menjadi $ 27 per saham, tetapi menjualnya segera setelah saham tersebut kembali naik ke $ 40. Laba kecil Buffett bisa jadi luar biasa jika dia menunggu sedikit lebih lama, karena harga saham Other Services Preferred akhirnya melonjak hingga hampir $ 200 per saham.

Pengalaman tersebut memberikan pelajaran keuangan yang penting, yang telah mengubah gaya Warren Buffett dalam mengambil keputusan investasi sampai hari ini yaitu Beli dan tahan.

Perbaikan yang saya lakukan kedepannya adalah terkait Alokasi Aset  yakni mengatur keuangan dalam rangka investasi jangka panjang lebih jelasnya lagi benar-benar mengatur porsi cash dan uang yang sudah diinvestasikan serta diversifikasi yang menguntungkan.

Ada langkah yang sudah siapkan, namun karena belum terbukti hasilnya makan akan saya share nantinya jika sudah terlihat perkembangan yang bagus kinerja portfolio saya.